Sumber : http://epaper.joglosemar.co/folder/2017/10/081017/#p=1
Poli Gigi RS Kasih Ibu Surakarta , Poli Gigi RS Panti Waluyo Surakarta , Klinik Gigi Spesialis Jalan Teratai CJ-16 Solo Baru, Sukoharjo, Telp:0271 620018 (Find me on Google Maps & Instagram @aprekadrgsport)
Senin, 16 Oktober 2017
Hasil Wawancara Media Koran Joglosemar 8 Oktober 2017
Sumber : http://epaper.joglosemar.co/folder/2017/10/081017/#p=1
Selasa, 11 April 2017
Pasang Kawat gigi di "A" kontrolnya di Dokter gigi "B" kota lain
Kali ini saya akan sharing hal yang baru-baru ini mulai terjadi tren yang menurut saya kurang baik. Jadi pasien BARU pasang kawat gigi di dokter gigi (non spesialis ortho) di kota A lalu kontrolnya di suruh cari dokter spesialis di kota B karena alasan kuliah maupun pekerjaan.
Dalam perawatan ortodontik seorang dokter gigi spesialis orto akan menganalisis dan menyusun rencana perawatan secara detail terlebih dahulu. Dalam menyusun rencana perawatan salah satunya pasti akan dilakukan anamnesis/wawancara terlebih dahulu untuk mengetahui latar belakang pasien, contohnya apakah akan berada di kota tempat dilakukannya perawatan kawat gigi sesuai dengan estimasi lama perawatannya, apakah akan menikah dalam waktu dekat atau bisa juga menanyakan apakah setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah dimana..... dan lain-lain....Hal ini ditanyakan untuk mengetahui apakah perawatan akan selesai di dokter yang merawat pertama kali atau tidak.
Jadi singkatnya, menurut saya kurang baik dan bijaksana buat pasien yang akan menerima perawatan ortho jika mengetahui akan sulit kontrol karena alasan domisili yang jauh tetap melakukan perawatan ortho/kawat gigi, dan juga kurang baik dan bijaksana jika operator yang akan melakukan perawatan orthodontik jika tetap memasang kawat gigi pada pasien dan menyuruhnya kontrol di tempat lain.
Beda halnya jika setelah perawatan ortodontik yg berjalan tiba-tiba pasien secara tiba-tiba harus pindah, maka sebagai pasien berkewajiban dan berhak untuk dibuatkan surat rujukan dan meminta salinan/foto copy rekam medis serta data-data penunjang seperti cetakan gigi awal dan foto ronsen maupun foto profil maupun intra oral. dan yang merawat berkewajiban menyediakan hal-hal tersebut.
Jika pasien tidak memiliki hal tersebut, maka pasien tersebut beresiko akan menjadi pasien "gentayangan" artinya pasien tidak jelas siapa yang merawat...ingat perawatan ortodontik tidak hanya pasang kawat dan ganti karet dan ditarik kesana kemari melainkan ada perhitungannya.
"Orthodontic may seem easy to do...But it is NOT"
Dalam perawatan ortodontik seorang dokter gigi spesialis orto akan menganalisis dan menyusun rencana perawatan secara detail terlebih dahulu. Dalam menyusun rencana perawatan salah satunya pasti akan dilakukan anamnesis/wawancara terlebih dahulu untuk mengetahui latar belakang pasien, contohnya apakah akan berada di kota tempat dilakukannya perawatan kawat gigi sesuai dengan estimasi lama perawatannya, apakah akan menikah dalam waktu dekat atau bisa juga menanyakan apakah setelah lulus SMA akan melanjutkan kuliah dimana..... dan lain-lain....Hal ini ditanyakan untuk mengetahui apakah perawatan akan selesai di dokter yang merawat pertama kali atau tidak.
Jadi singkatnya, menurut saya kurang baik dan bijaksana buat pasien yang akan menerima perawatan ortho jika mengetahui akan sulit kontrol karena alasan domisili yang jauh tetap melakukan perawatan ortho/kawat gigi, dan juga kurang baik dan bijaksana jika operator yang akan melakukan perawatan orthodontik jika tetap memasang kawat gigi pada pasien dan menyuruhnya kontrol di tempat lain.
Beda halnya jika setelah perawatan ortodontik yg berjalan tiba-tiba pasien secara tiba-tiba harus pindah, maka sebagai pasien berkewajiban dan berhak untuk dibuatkan surat rujukan dan meminta salinan/foto copy rekam medis serta data-data penunjang seperti cetakan gigi awal dan foto ronsen maupun foto profil maupun intra oral. dan yang merawat berkewajiban menyediakan hal-hal tersebut.
Jika pasien tidak memiliki hal tersebut, maka pasien tersebut beresiko akan menjadi pasien "gentayangan" artinya pasien tidak jelas siapa yang merawat...ingat perawatan ortodontik tidak hanya pasang kawat dan ganti karet dan ditarik kesana kemari melainkan ada perhitungannya.
"Orthodontic may seem easy to do...But it is NOT"
Selasa, 17 Januari 2017
Pasang kawat gigi atas saja ?
Sharing pengalaman praktek kawat gigi / ortodonti File #03
Hari ini saya akan menjelaskan hal yang sering ditanyakan ke saya melalui e-mail , yaitu apakah bisa pasang kawat gigi hanya salah satu rahang saja?
Pada prinsipnya perawatan ortodontik atau kawat gigi bukan hanya menyusun gigi agar rapi tetapi juga harus berusaha menghasilkan gigitan yang baik. Oleh karena itu sangat jarang perawatan orthodontik hanya satu rahang saja.
Lain hal nya jika dalam rencana perawatan kawat gigi yang disusun oleh ortodontis awalnya menggunakan kawat gigi pada salah satu rahang terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan kawat gigi yang bawah. Hal tersebut sangat mungkin terjadi, tapi hal ini sangat tergantung kasus gigi pasiennya dan anda sebagai pasien pasti juga akan diberitahu alasannya kenapa. Jika tidak diberitahu anda sebagai pasien berhak mempertanyakannya. Sebaiknya alasan biaya jangan menjadi alasan ingin merawat salah satu rahang saja. Jika diumpamakan, anda mengalami kecelakaan dan kedua kaki anda mengalami trauma yang satu patah tulang dan yang satu lagi hanya retak tulang sedikit apakah anda hanya ingin merawatkan yang patah saja?
Pasti anda akan bertanya, sangat jarang bukan berarti gak bisa khan dok? betul sekali, perawatan satu rahang bisa saja tetapi hanya pada kasus yang sangat ringan dan adanya perubahan susunan gigi tidak akan mempengaruhi gigitan antara gigi atas dan bawah.
Oleh karena itu sebaiknya konsultasikan kasus gigi anda dengan ortodontis / dokter gigi spesialis kawat gigi dan pada saat diskusi hasil analisis gunakan kesempatan tersebut untuk benar-benar menanyakan rencana kasus anda secara detail. Untuk prosedur perawatan kawat gigi ada di thread berikut Prosedur sebelum perawatan kawat gigi atau orto atau behel
Kamis, 24 November 2016
Sharing pengalaman praktek kawat gigi / ortodonti File #02
Pada saat saya mempublikasikan kasus yang pertama banyak yang mengirimi saya e-mail dan bertanya siapa yang dimaksud dengan oknum non-drg spesialis ortodontik. Yang dimaksud tersebut adalah orang yang tidak memiliki keilmuan dan kemampuan dalam melakukan perawatan ortodontik. Memang menjadi sulit bagi orang awam untuk mengukur hal tersebut, yang pasti keilmuan dan kemampuan melakukan perawatan ortodontik diperoleh dari pusat pendidikan yaitu PPDGS (Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis) di universitas negeri. Pendidikan melalui kursus juga sebenarnya TIDAK cukup untuk dikatakan memiliki keilmuan dan kemampuan dalam melakukan perawatan ortodontik.Karena inti perawatan bukan pada kegiatan memasang behel atau braket ortodontik, melainkan penentuan diagnosis, rencana perawatan, dan kemampuan mengendalikan alat orto pada saat kontrol, tidak hanya ganti karet semata.
Kali ini saya akan berbagi cerita tentang apa yang saya alami dalam melakukan pelayanan perawatan ortodontik.
File #02
Pada suatu hari saya praktek, datang pasien seorang wanita berusia sekitar 30 tahun dengan keadaan sudah memakai kawat gigi atau braket, dan berencana ingin pindah perawatan. Seperti biasa saya melakukan wawancara singkat untuk mengetahui sejarah perawatannya tersebut, ternyata yang merawat adalah oknum non-drg spesialis ortodontik. Pasien mengeluhkan gigi depan maju dan tidak bisa menggigit makanan menggunakan gigi depan. Setelah saya lihat keadaan klinis ternyata pemasangan braket banyak yang salah dan tidak presisi, penyebab pasien tidak bisa mengigit di karenakan ada pemasangan braket yang membuat giginya menjadi tinggi sebelah / modot / ekstrusi (silahkan di cari di mbah Google ya) kemudian terkunci, keadaan gigi depan terbuka /Open bite (silahkan Mbah Google lagi yaa) sebesar 10mm (itu sangat besar). Setelah melihat kasus tersebut, saya menjelaskan kepada pasien bahwa kasusnya harus diulang dari awal karena kasusnya bukan keadaan kemajuan yang semakin baik tetapi semakin parah dan menjadi kasus baru. Karena pasien menolak, kemudian solusinya adalah pasien disarankan sebaiknya diskusikan lagi dengan orang yang memasang behelnya pertama kali.
Hikmah:
1. Perawatan kawat gigi bukanlah sesuatu yang mudah, Banyak sekali oknum yang menganggap perawatan kawat gigi hanya sekedar memasang kemudian gigi akan rapi dengan sendirinya, memang kesalahan pada saat awal mulai kawat gigi tidak langsung kelihatan, tapi setelah beberapa lama baru akan terlihat.
2. Kasus dimana keadaan gigi pasien dihitung sebagai kasus baru merupakan hal yang wajar, apalagi kasusnya bukan semakin baik malah menjadi kasus baru. Jika kita umpamakan seperti membangun rumah, jika mandor atau yang mengawasi pembangunan tidak kompeten pasti rumahnya menjadi tidak baik, kemudian diganti dengan arsitek yang kompeten, pasti arsiteknya menjadi berpikir keras gara-gara harus memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur salah. Dan jangan kaget biayanya malah semakin lebih mahal.
Kamis, 27 Oktober 2016
Pindah dokter perawatan kawat gigi / ortodontik
Dalam blog saya awalnya berisi tentang berbagai pengetahuan tentang perawatan kawat gigi, bukan mengenai bagaimana cara atau teknik ortodonti tetapi lebih pada apa yang di hadapi dari sudut pandang pasien. Kali ini saya pikir, pada blog ini ingin sharing apa yang saya alami selama praktek yang menarik dan bisa di bagi ke publik.
NB: sebenarnya saya ingin melihatkan foto kasus pasiennya, tapi demi menjaga privasi pasien tidak saya tampilkan.
Sharing pengalaman praktek kawat gigi / ortodonti File #01
Seorang pasien datang ke klinik dengan keadaan sudah terpasang braket atau behel pada giginya ingin pindah perawatan ke saya. Sayangnya pasien tersebut tidak membawa surat rujukan. Kemudian saya memeriksa secara klinis keadaan gigi pasiennya. Dan ternyata keadaan gigi tidak baik, banyak gigi gerahamnya yang tinggal menjadi akar alias rusak parah, gigi yang di tempeli behel goyang parah. Yang kemudian saya instruksikan untuk foto ronsen untuk melihat keadaan gigi-giginya, ternyata yang goyang tersebut sudah mengalami penurunan tulang sehingga menyebabkan gigi goyang.selain itu gigi yang ditempeli behel juga mengalami kerusakan di area yang di tempeli behel hal ini disebabkan kebersihan yang sangat kurang. pasien merasa kebingungan setelah saya menjelaskan keadaan giginya secara detail dan resiko perawatan selanjutnya. Dari saya, menyarankan untuk menyudahi saja perawatan kawat giginya karena sudah tidak sepadan dengan kerusakan yang telah dialami. Pasien kemudian menangis dan mengaku dirawat oleh oknum non-drg spesialis ortodonsia.
Hikmah dari kasus ini :
1. Pasien yang akan berencana pindah perawatan ke dokter spesialis ortodonsia sangat disarankan meminta surat rujukan dari dokter yang merawat sebelumnya, disertai data-data penunjang perawatan sebelumnya.
2. Isi dari SURAT RUJUKAN kurang lebih berisikan tentang seperti:
NB: sebenarnya saya ingin melihatkan foto kasus pasiennya, tapi demi menjaga privasi pasien tidak saya tampilkan.
Sharing pengalaman praktek kawat gigi / ortodonti File #01
Seorang pasien datang ke klinik dengan keadaan sudah terpasang braket atau behel pada giginya ingin pindah perawatan ke saya. Sayangnya pasien tersebut tidak membawa surat rujukan. Kemudian saya memeriksa secara klinis keadaan gigi pasiennya. Dan ternyata keadaan gigi tidak baik, banyak gigi gerahamnya yang tinggal menjadi akar alias rusak parah, gigi yang di tempeli behel goyang parah. Yang kemudian saya instruksikan untuk foto ronsen untuk melihat keadaan gigi-giginya, ternyata yang goyang tersebut sudah mengalami penurunan tulang sehingga menyebabkan gigi goyang.selain itu gigi yang ditempeli behel juga mengalami kerusakan di area yang di tempeli behel hal ini disebabkan kebersihan yang sangat kurang. pasien merasa kebingungan setelah saya menjelaskan keadaan giginya secara detail dan resiko perawatan selanjutnya. Dari saya, menyarankan untuk menyudahi saja perawatan kawat giginya karena sudah tidak sepadan dengan kerusakan yang telah dialami. Pasien kemudian menangis dan mengaku dirawat oleh oknum non-drg spesialis ortodonsia.
Hikmah dari kasus ini :
1. Pasien yang akan berencana pindah perawatan ke dokter spesialis ortodonsia sangat disarankan meminta surat rujukan dari dokter yang merawat sebelumnya, disertai data-data penunjang perawatan sebelumnya.
2. Isi dari SURAT RUJUKAN kurang lebih berisikan tentang seperti:
- Identitas dokter yang merawat sebelumnya
- Identitas pasien
- Alasan pindah perawatan
- Diagnosis Awal
- Hasil analisis Sefalometri
- Teknik perawatan kawat gigi / ortodontik yang digunakan (Sistim Alat, Prescription Alat)
- Keadaan perkembangan saat ini
- Rencana perawatan selanjutnya
- Cetakan awal pasien
- Analisis Kesling jika ada
- Foto ronsen sefalometri yang telah dianalisis
- Foto ronsen Panoramic
- Foto-foto profil, extra oral, dan intra oral
Kamis, 06 Oktober 2016
Penggunaan kawat gigi / behel / ortodontik pada ibu hamil
Kehamilan merupakan berkah dari Tuhan yang dititipkan ke seorang ibu. Dalam keluarga pasti menginginkan kesehatan yang baik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.
Sekarang kita coba membahas bagaimana perawatan kawat gigi pada ibu hamil.
Pada prinsipnya perawatan kawat gigi tidak bermasalah bagi ibu hamil tapi dengan catatan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Kebersihan gigi pada saat proses perawatan kawat gigi perlu dijaga. Pada ibu hamil adanya perubahan hormon pada tubuh terkadang memiliki efek meningkatnya gingivitis atau radang gusi. Jika kebersihan kurang pada saat perawatan kawat gigi dapat memperparah keadaan radang gusinya.
2. Pengaktifan kawat gigi atau tindakan mengencangkan kawat tidak dilakukan setiapkali kontrol , tetapi ada keadaan dimana kawat giginya harus bersifat pasif pada masa kehamilan tertentu sang ibu. Dan hal ini dokter gigi spesialis ortodonsia tidak jarang akan berkerja sama dengan dokter spesialis kandung untuk memberikan perawatan aman bagi ibu dan bayi dalam kandungan.
3. Pada ibu hamil sebaiknya permintaan foto ronsen di lakukan secara bijak dan jika perlu atas izin dokter kandungan yang menangani. Dilakukan jika memang benar-benar diperlukan.
4. Pada masa kehamilan kemungkinan akan mempengaruhi kecepatan pergerakan gigi hal ini disebabkan karena hormon dalam sang ibu yang berubah, tetapi hal ini tidak perlu di khawatirkan karena setelah melahirkan akan kembali normal.
Minggu, 25 September 2016
Jenis- jenis dokter gigi spesialis
Jenis - jenis dokter gigi spesialis:
1.Spesialis Bedah Mulut (Sp.BM).
Pendidikan dokter gigi spesialis bedah mulut ditempuh selama 10 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.BM adalah melakukan tindakan bedah rahang, penanaman implan gigi, operasi gigi bungsu dengan berbagai faktor penyulit, operasi tumor dan keganasan pada kepala, leher, dan rongga mulut, tindakan perawatan celah bibir dan langit-langit mulut, bedah koreksi asimetri wajah, bedah sendi rahang, dan sebagainya.
2. Spesialis Kedokteran Gigi Anak (Sp.KGA).
Pendidikan dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.KGA adalah menangani seluruh masalah kesehatan gigi anak, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan gigi-gigi mereka, membantu mereka menghindari masalah kesehatan gigi di masa yang akan datang dengan pendekatan sesuai psikologis anak, sehingga anak tidak akan mengalami trauma untuk pergi ke dokter gigi.
3. Spesialis Konservasi Gigi (Sp.KG).
Pendidikan dokter gigi spesialis konservasi gigi ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.KG adalah perawatan dan pencegahan gigi berlubang, penambalan gigi sesuai dengan kasus (pembuatan veneer, mahkota, pasak, onlay, inlay), perawatan gigi berlubang dalam yang sudah mencapai ke ruang saraf dan pembuluh darah gigi (perawatan saluran akar gigi), dentin hipersensitif, fraktur mahkota gigi, lesi karies radiasi, gigi avulsi, bedah endodontik, pemutihan gigi eksterna dan interna, dan sebagainya.
4. Spesialis Penyakit Mulut (Sp.PM).
Pendidikan dokter gigi spesialis penyakit mulut ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.PM adalah perawatan kesehatan mulut pada pasien kompromis medik dan diagnosis serta pengelolaan non bedah pada kelainan atau penyakit yang mengenai regio mulut dan sekitarnya, manifestasi penyakit sistemik di rongga mulut serta perawatan kesehatan gigi dan mulut bagi pasien kompromis medik. Perawatan luka, sariawan yang tak kunjung sembuh, dan tonjolan pada jaringan lunak mulut yang disebabkan berbagai penyakit sistemik merupakan salah satu contoh keahlian SpPM.
5. Spesialis Ortodonsia (Sp.Ort).
Pendidikan dokter gigi spesialis ortodonsia ditempuh selama 6 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Ort adalah mendiagnosa kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan wajah (dentofasial), serta cara penanggulangannya melalui upaya preventif, interseptif dan kuratif baik secara bedah maupun non-bedah, guna mengembalikan fungsi sistem pengunyahan dan estetika yang optimal.
6. Spesialis Periodonsia (Sp.Perio).
Pendidikan dokter gigi spesialis peridonsia ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Perio adalah perawatan jaringan pendukung gigi, seperti perawatan gusi berdarah, gusi meradang, penurunan gusi, gigi-gigi yang goyang, menghilangkan karang gigi, bedah periodontal, dan sebagainya.
7. Spesialis Prostodonsia (Sp.Pros).
Pendidikan dokter gigi spesialis prostodonsia ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Pros adalah pembuatan restorasi gigi asli dan atau penggantian gigi hilang beserta jaringan lunak rongga mulut dan maksilofasial dengan bahan pengganti buatan, antara lain pembuatan gigi tiruan cekat dan lepasan, pembuatan veneer, perawatan gangguan sendi rahang, pemasangan implan gigi, dan sebagainya.
8. Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi (Sp.RKG).
Pendidikan dokter gigi spesialis radiologi kedokteran gigi ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.RKG adalah menganalisa dan menginterpretasikan gambaran radiologi gigi.
Cara mencheck dokter gigi anda memiliki merupakan spesialis apa , caranya bisa baca di thread berikut Cara men-check kompetensi dokter gigi
1.Spesialis Bedah Mulut (Sp.BM).
Pendidikan dokter gigi spesialis bedah mulut ditempuh selama 10 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.BM adalah melakukan tindakan bedah rahang, penanaman implan gigi, operasi gigi bungsu dengan berbagai faktor penyulit, operasi tumor dan keganasan pada kepala, leher, dan rongga mulut, tindakan perawatan celah bibir dan langit-langit mulut, bedah koreksi asimetri wajah, bedah sendi rahang, dan sebagainya.
2. Spesialis Kedokteran Gigi Anak (Sp.KGA).
Pendidikan dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.KGA adalah menangani seluruh masalah kesehatan gigi anak, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan gigi-gigi mereka, membantu mereka menghindari masalah kesehatan gigi di masa yang akan datang dengan pendekatan sesuai psikologis anak, sehingga anak tidak akan mengalami trauma untuk pergi ke dokter gigi.
3. Spesialis Konservasi Gigi (Sp.KG).
Pendidikan dokter gigi spesialis konservasi gigi ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.KG adalah perawatan dan pencegahan gigi berlubang, penambalan gigi sesuai dengan kasus (pembuatan veneer, mahkota, pasak, onlay, inlay), perawatan gigi berlubang dalam yang sudah mencapai ke ruang saraf dan pembuluh darah gigi (perawatan saluran akar gigi), dentin hipersensitif, fraktur mahkota gigi, lesi karies radiasi, gigi avulsi, bedah endodontik, pemutihan gigi eksterna dan interna, dan sebagainya.
4. Spesialis Penyakit Mulut (Sp.PM).
Pendidikan dokter gigi spesialis penyakit mulut ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.PM adalah perawatan kesehatan mulut pada pasien kompromis medik dan diagnosis serta pengelolaan non bedah pada kelainan atau penyakit yang mengenai regio mulut dan sekitarnya, manifestasi penyakit sistemik di rongga mulut serta perawatan kesehatan gigi dan mulut bagi pasien kompromis medik. Perawatan luka, sariawan yang tak kunjung sembuh, dan tonjolan pada jaringan lunak mulut yang disebabkan berbagai penyakit sistemik merupakan salah satu contoh keahlian SpPM.
5. Spesialis Ortodonsia (Sp.Ort).
Pendidikan dokter gigi spesialis ortodonsia ditempuh selama 6 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Ort adalah mendiagnosa kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan wajah (dentofasial), serta cara penanggulangannya melalui upaya preventif, interseptif dan kuratif baik secara bedah maupun non-bedah, guna mengembalikan fungsi sistem pengunyahan dan estetika yang optimal.
6. Spesialis Periodonsia (Sp.Perio).
Pendidikan dokter gigi spesialis peridonsia ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Perio adalah perawatan jaringan pendukung gigi, seperti perawatan gusi berdarah, gusi meradang, penurunan gusi, gigi-gigi yang goyang, menghilangkan karang gigi, bedah periodontal, dan sebagainya.
Pendidikan dokter gigi spesialis prostodonsia ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.Pros adalah pembuatan restorasi gigi asli dan atau penggantian gigi hilang beserta jaringan lunak rongga mulut dan maksilofasial dengan bahan pengganti buatan, antara lain pembuatan gigi tiruan cekat dan lepasan, pembuatan veneer, perawatan gangguan sendi rahang, pemasangan implan gigi, dan sebagainya.
8. Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi (Sp.RKG).
Pendidikan dokter gigi spesialis radiologi kedokteran gigi ditempuh selama 5 semester. Keahlian yang dimiliki oleh seorang Sp.RKG adalah menganalisa dan menginterpretasikan gambaran radiologi gigi.
Cara mencheck dokter gigi anda memiliki merupakan spesialis apa , caranya bisa baca di thread berikut Cara men-check kompetensi dokter gigi
Langganan:
Postingan (Atom)










